Ceritamu ceritaku hampir sama, yang membedakan versi dan cara penyampaian kita yang berbeda. Seperti yang kuceritakan sebelum-sebelumnya, kamu yang tidak banyak cerita. Paling juga jika ada yang tanya tentang KITA kamua akan menjawab seperlunya apa yang mesti dijawab. Berbeda dengan aku. Aku yang dari awal hingga akhir akan menceritakan tentang KITA apabila ada yang bertanya tentang KITA.
Seminggu sebelum kepergianku Ke Pulau Dewata.
Kita masih saling bertukar pendapat. Kamu yang masih suka mencemooh gaya bicaraku. Aku yang suka membully tentangmu. begitulah intinya percakapan kita sebelum aku pergi ke pulau Dewata. Hingga malam itu, aku meminta kejelasan. Dan itulah yang terbaik yang harusnya aku lakukan dari jauh-jauh hari, bahkan menurutku aku sudah terlambat mempertanyakan KITA disaat kamu sudah terbiasa menjadi KAMU.
Sudahlah, aku sudah bosan mempermasalahkan jarak, signal dan semuanya. Aku bosan. Tapi ada satu hal yang tidak pernah aku mengerti sampai sekarang. Aku tidak pernah bosan untuk menunggumu, kembali.
Tragis, iya kadang aku juga menertawakan ketololanku ini. Dan bahkan aku meyakinkan teman-temanku semoga tidak mendpatkan nasib cinta yang penuh dengan drama signal jarak ini.
Walaupun kita tidak saling bicara mengenai semua ini. Tapi kenapa dalam hati kecil ini ada sebuah keyakinan, "Kamu begini karena kamu ingin mengejar kariermu, ingin meraih masa depanmu, membanggakan orangtuamu"
dan kamu menghindariku supaya aku bisa mandiri tanpa sebentar-sebentar mengadu di kamu. Kamu mengindahkanku agar aku lebih tegar dan kuat jika seandainya kita nanti dijauhkan. Kamu meninggalkanku agar aku fokus ke Tugas akhirku, .. dan suatu saat kamu akan kembali. Entah itu kapan.
Read More >>
Seminggu sebelum kepergianku Ke Pulau Dewata.
Kita masih saling bertukar pendapat. Kamu yang masih suka mencemooh gaya bicaraku. Aku yang suka membully tentangmu. begitulah intinya percakapan kita sebelum aku pergi ke pulau Dewata. Hingga malam itu, aku meminta kejelasan. Dan itulah yang terbaik yang harusnya aku lakukan dari jauh-jauh hari, bahkan menurutku aku sudah terlambat mempertanyakan KITA disaat kamu sudah terbiasa menjadi KAMU.
Sudahlah, aku sudah bosan mempermasalahkan jarak, signal dan semuanya. Aku bosan. Tapi ada satu hal yang tidak pernah aku mengerti sampai sekarang. Aku tidak pernah bosan untuk menunggumu, kembali.
Tragis, iya kadang aku juga menertawakan ketololanku ini. Dan bahkan aku meyakinkan teman-temanku semoga tidak mendpatkan nasib cinta yang penuh dengan drama signal jarak ini.
Walaupun kita tidak saling bicara mengenai semua ini. Tapi kenapa dalam hati kecil ini ada sebuah keyakinan, "Kamu begini karena kamu ingin mengejar kariermu, ingin meraih masa depanmu, membanggakan orangtuamu"
dan kamu menghindariku supaya aku bisa mandiri tanpa sebentar-sebentar mengadu di kamu. Kamu mengindahkanku agar aku lebih tegar dan kuat jika seandainya kita nanti dijauhkan. Kamu meninggalkanku agar aku fokus ke Tugas akhirku, .. dan suatu saat kamu akan kembali. Entah itu kapan.