Tepatnya tanggal 6 Februari kemarin,
saya ditemani dengan adik-adik bimbingan saya angkatan 2010 yaitu Choirul Anam dan Puguh Udiarta melakukan sampling untuk Program Penelitian yang didanai oleh DIKTI dengan menyusuri Suangai Sayung, Pantai Morosari, Demak.
Banyak kejadian unik yang saya temukan disana,
Salah satunya yang tak luput dari perhatian saya dan teman-teman adalah:
Nelayan
Hehe,
Anak perikanan, tentu yang menjadi fokus utama yaitu hal yang berkenaan dengan dunia perikanan salah satunya adalah nelayan.
Nelayan disana cukup ramah komunikatif jika diajak berbicara. Akan tetapi, kita juga dituntut untuk menguasai bahasa daerah disana, untuk memudahkan kita bersosialisasi dengan penduduk sekitar.
Menurut sepengamatan saya, didaerah pesisir dekat muara Pantai Morosari itu berprofesi sebagian besar nelayan, dan kehidupan mereka termasuk maju dengan menilik rumah-rumah bangunan mereka yang tergolong elit.
Alhamdulillah, ucap saya seketika itu juga. Entah kenapa saya tidak tahu, akan tetapi ada rasa ketidaksukaan saya jika mendengar pembicaraan bahwa nelayan itu sebagian besar hidup dalam kemiskinan.
Memang, ketika saya mengambil Mata kuliah yang berhubungan dengan masyarakat pesisir yaitu SOSMAPI (Sosiologi Masyarakat Perikanan) ada penjelasan bahwa nelayan kurang bisa memanage keuangan mereka.
Setelah saya bandingkan dengan melakukan survey di sekitar rumah saya (Kebetulan rumah saya dekat dengan Pantai Utara Jawa) penduduk sekitar yang bermatapencaharian sebagai nelayan pun sebagian besar kurang bisa menabung. Jika diumpamakan, penghasilan mereka sehari Rp.50.000,00 maka kalau bisa habis dalam waktu itu juga dengan dalih bahwa keesokan harinya mereka akan mencari pendapatan lagi dengan melaut lagi dan dihabiskan lagi, begitulah rute perputaran uang mereka.
Kemudian saya bandingkan dengan keadaan di daerah Sungai Sayung itu, kebetulan dekat dengan Daerah wisata Pantai Morosari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar